<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>generasi muda &#8211; PWI Kota Bandung</title>
	<atom:link href="https://pwikotabandung.com/tag/generasi-muda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://pwikotabandung.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Dec 2019 10:10:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.8</generator>

<image>
	<url>https://pwikotabandung.com/wp-content/uploads/2021/02/cropped-pwi-kota-bandung-1-32x32.png</url>
	<title>generasi muda &#8211; PWI Kota Bandung</title>
	<link>https://pwikotabandung.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Seminar 100 Tahun Indonesia Jilid II: Bukan Sekadar Toleransi Tapi Menerima Perbedaan</title>
		<link>https://pwikotabandung.com/2019/12/seminar-100-tahun-indonesia-jilid-ii-bukan-sekadar-toleransi-tapi-menerima-perbedaan/</link>
					<comments>https://pwikotabandung.com/2019/12/seminar-100-tahun-indonesia-jilid-ii-bukan-sekadar-toleransi-tapi-menerima-perbedaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[PWIkbdg]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Dec 2019 10:09:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Adriana Elisabeth]]></category>
		<category><![CDATA[Atal Depari]]></category>
		<category><![CDATA[generasi muda]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia 2045]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Jilid II]]></category>
		<category><![CDATA[PWI Pusat]]></category>
		<category><![CDATA[Seminar 100 Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Muda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://pwikotabandung.com/?p=206039</guid>

					<description><![CDATA[Penguasaan Iptek juga harus memiliki etika. Spiritualitas itu kita dapatkan dari pelajaran budi pekerti dan pendidikan keluarga di rumah karena religius saja tidak cukup. JAKARTA, PWI Kota Bandung &#8212; Indonesia mesti lebih memberdayakan kaum mudanya dalam menghadapi banyak persoalan besar menuju usia satu abad di tahun 2045. Demikian disampaikan peneliti politik di Lembaga Ilmu Pengetahuan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Penguasaan Iptek juga harus memiliki etika. Spiritualitas itu kita dapatkan dari pelajaran budi pekerti dan pendidikan keluarga di rumah karena religius saja tidak cukup.</em></strong></p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="450" height="338" src="http://pwikotabandung.com/wp-content/uploads/2019/12/Seminar-100-Tahun-Indonesia-Jilid-II-Bukan-Sekadar-Toleransi-Tapi-Menerima-Perbedaan-3.jpeg" alt="" class="wp-image-206042" srcset="https://pwikotabandung.com/wp-content/uploads/2019/12/Seminar-100-Tahun-Indonesia-Jilid-II-Bukan-Sekadar-Toleransi-Tapi-Menerima-Perbedaan-3.jpeg 450w, https://pwikotabandung.com/wp-content/uploads/2019/12/Seminar-100-Tahun-Indonesia-Jilid-II-Bukan-Sekadar-Toleransi-Tapi-Menerima-Perbedaan-3-300x225.jpeg 300w" sizes="(max-width: 450px) 100vw, 450px" /></figure></div>



<p><strong>JAKARTA, PWI Kota Bandung &#8212;</strong> Indonesia mesti lebih memberdayakan
kaum mudanya dalam menghadapi banyak persoalan besar menuju usia satu abad di
tahun 2045.</p>



<p>Demikian disampaikan peneliti
politik di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adriana Elisabeth, dalam
Seminar 100 Tahun Indonesia Jilid II &#8220;Mimpi Tokoh Muda untuk Indonesia
2045&#8221; di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan
nomor 17, Jakarta Pusat, Rabu (18/12/2019) pagi. </p>



<p>Menurut Adriana, kebanyakan
generasi muda terutama milenial yang lahir di atas tahun 1980, mempunyai ciri
energik, dinamis, kreatif, dan selalu berpikir out of the box. </p>



<p>&#8220;Ide mereka kadang aneh,
tapi kita senang juga. Walaupun ada ciri yang tidak baik dari generasi muda
milenal terutama yang kadang ambigu, karena mereka multi talenta. Semua itu
harus kita lihat untuk mengarahkan generasi muda Indonesia ke depan seperti
apa,&#8221; ujar Adriana.</p>



<p>Dia menjelaskan sejumlah
tantangan besar yang akan dihadapi Indonesia ke depan. Yang paling kentara
adalah penguasaan teknologi modern. </p>



<p>&#8220;Teknologi sudah di depan
kita. Tapi di sisi lain kita juga punya SDM yang jauh lebih buruk dari yang
bisa kita bayangkan terutama di Papua. Kita harus pikirkan pelayanan publik
sampai ke ke kampung-kampung,&#8221; jelasnya.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignright size-large"><img decoding="async" width="450" height="253" src="http://pwikotabandung.com/wp-content/uploads/2019/12/Seminar-100-Tahun-Indonesia-Jilid-II-Bukan-Sekadar-Toleransi-Tapi-Menerima-Perbedaan-2.jpeg" alt="" class="wp-image-206041" srcset="https://pwikotabandung.com/wp-content/uploads/2019/12/Seminar-100-Tahun-Indonesia-Jilid-II-Bukan-Sekadar-Toleransi-Tapi-Menerima-Perbedaan-2.jpeg 450w, https://pwikotabandung.com/wp-content/uploads/2019/12/Seminar-100-Tahun-Indonesia-Jilid-II-Bukan-Sekadar-Toleransi-Tapi-Menerima-Perbedaan-2-300x169.jpeg 300w" sizes="(max-width: 450px) 100vw, 450px" /></figure></div>



<p>Tantangan lain adalah
ketidakpastian juga ketidakteraturan dunia. Ia memberi contoh bagaimana Uni
Eropa bisa membuat aturan amat rumit bagi produk sawit Indonesia, tapi
perlakuan Uni Eropa berbeda kepada negara lain. </p>



<p>&#8220;Semua berkompetisi pada hal
sama, maka itu keunikan produk diperlukan. Mutu produk dan pelayanan, harga,
kemudian juga soal kebersihan harus diperhatikan,&#8221; jelas Adriana. </p>



<p>Adriana juga mengatakan betapa
penting Indonesia membangun peradaban baru selain menguasai ilmu pengetahuan
dan teknologi (Iptek). Pembangunan strategi peradaban baru dan penguasaan Iptek
harus mengarah kepada pemenuhan kesejahteraan rakyat. </p>



<p>&#8220;Penguasaan Iptek juga harus
memiliki etika. Spiritualitas itu kita dapatkan dari pelajaran budi pekerti dan
pendidikan keluarga di rumah karena religius saja tidak cukup. Penting untuk
menerima perbedaan orang lain, bukan sekadar toleransi tapi menerima
perbedaan,&#8221; tegasnya.</p>



<p>Ia katakan, generasi muda
Indonesia juga harus dilatih untuk lebih peka dalam menghadapi isu-isu
straregis global yaitu toleransi, kesenjangan ekonomi, kerusakan lingkungan dan
narkoba.</p>



<p>&#8220;Peradaban yang lain menurut
saya yang harus dibangun adalah menghamornisasikan nasionalisme kita dengan
globalisme,&#8221; katanya.&nbsp; </p>



<p>Dua hal lain yang tidak kalah
penting dalam menyongsong Indonesia 2045 adalah mewujudkan sistem demokrasi
yang memenuhi kebutuhan hak-hak asasi manusia paling dasar. Menurutnya, kalau
itu bisa dilakukan, Indonesia akan lebih gemilang.</p>



<p>&#8220;Yang tak kalah penting
adalah pemberdayaan perempuan secara lebih luas. Laki-laki dan perempuan punya
peran penting yang bisa dikerjasamakan,&#8221; tutupnya. <strong>*red</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://pwikotabandung.com/2019/12/seminar-100-tahun-indonesia-jilid-ii-bukan-sekadar-toleransi-tapi-menerima-perbedaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
